Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

MENGUCAPKAN NIAT HENDAK IBADAH Part 2

 by Abdul Wahid M.Pd.I Pertanyaan dan Sanggahan Salafi : 1-       Hadits yang Anda ajukan itu kan konteks berpuasa sunnah, dan haji saja, bukan untuk shalat, wudhu, i’tikaf, dsb.? 2-       Jadi dalil Anda tidak cocok? kok bisa Anda membuat-buat qiyas dalam ibadah? Bukankah Nabi Muhammad SAW tidak pernah membuat qiyas ibadah?   Jawaban Santri Memang haditsnya tentang puasa dan haji, sedangkan shalat, wudhu’, i’tikaf, dsb itu diqiyaskan. Dan tidak masalah qiyas dalam ibadah, karena sejak masa Nabi Muhammad SAW, sahabat, dan para ulama salaf qiyas dalam ibadah sudah digunakan sebagai metode untuk istinbath hukum Islam, mungkin Anda yang kurang baca, atau kurang paham atau gagal paham. Berikut ini uraian jawaban atas keberatan Anda: Qiyas adalah bagian dari metodologi studi Islam. Qiyas ini merupakan hasil ijtihad pikiran para ulama yang disandarkan atas nash-nash Al-Quran dan hadits. Pe...

Mengucapkan Niat hendak ibadah part 1

 By Abdul Wahid M.Pd.I MENGUCAPKAN NIAT HENDAK IBADAH بسم الله الرحمن الرحيم، اللهم صل وسلم على حبيبنا وسيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين . Prawacana Niat merupakan bagian penentu ibadah, untuk membedakan antara adat dan ibadah. Bab niat ini masih menjadi perdebatan hangat antara kelompok salafi dan non salafi. Kelompok salafi ini diwakili oleh pemahaman ulama-ulama yang mengikuti manhaj berpikir Ibnu Taimiyah seperti Ibnu Al-Qoyyim anak emasnya, dan salafi-salafi kontemporer. Kelompok yang mengaku-ngaku salafi ini biasanya membid’ahkan orang ibadah yang mengucapkan niatnya hendak melakukan ibadah. Dengan alasan, tidak ada dalil dari Al-Quran dan hadits tentang pelafadzan niat dari Nabi SAW. Bahkan orang ibadah yang melafadzkan niat dianggap bid’ah.   Baik dikatakan “bid’ah” atau “tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW” semua mempunyai implikasi yang sama, yaitu menyimpang dari Islam, karena dianggap tidak mengikuti apa yang dicontohkan Nabi SAW...