MENGUCAPKAN NIAT HENDAK IBADAH Part 2
by Abdul Wahid M.Pd.I
Pertanyaan dan Sanggahan Salafi:
1- Hadits yang Anda ajukan itu kan konteks
berpuasa sunnah, dan haji saja, bukan untuk shalat, wudhu, i’tikaf, dsb.?
2- Jadi dalil Anda tidak cocok? kok bisa Anda
membuat-buat qiyas dalam ibadah? Bukankah Nabi Muhammad SAW tidak pernah
membuat qiyas ibadah?
Jawaban Santri
- Memang haditsnya
tentang puasa dan haji, sedangkan shalat, wudhu’, i’tikaf, dsb itu
diqiyaskan. Dan tidak masalah qiyas dalam ibadah, karena sejak masa Nabi
Muhammad SAW, sahabat, dan para ulama salaf qiyas dalam ibadah sudah
digunakan sebagai metode untuk istinbath hukum Islam, mungkin Anda yang
kurang baca, atau kurang paham atau gagal paham. Berikut ini uraian
jawaban atas keberatan Anda:
Qiyas adalah bagian dari metodologi studi
Islam. Qiyas ini merupakan hasil ijtihad pikiran para ulama yang disandarkan
atas nash-nash Al-Quran dan hadits. Penggunaan pemikiran sejauh masih dilandaskan
nash-nash agama yang shahih, maka sejak masa Nabi sampai generasi salaf sudah
diterima sebagai bagian dari agama itu sendiri.
Dalil 1 Pemberdayaan Akal dalam Ibadah
عن مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ
مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ « كَيْفَ تَقْضِى إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ ».
قَالَ أَقْضِى بِكِتَابِ اللَّهِ. قَالَ « فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِى كِتَابِ اللَّهِ
». قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَ « فَإِنْ لَمْ
تَجِدْ فِى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ فِى كِتَابِ
اللَّهِ ». قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِى وَلاَ آلُو. فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- صَدْرَهُ وَقَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى وَفَّقَ رَسُولَ
رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِى رَسُولَ اللَّهِ ».
Artinya:
“Ketika
Nabi Muhammad SAW hendak mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau bertanya
terlebih dahulu, hai Muadz bagaimana cara kamu memberi keputusan hukum kepada
rakyat Yaman? Muadz menjawab, saya berpedoman kepada Al-Quran. Lalu Nabi
bertanya lagi, jika kamu tidak menemukan keputusan hukum di Al-Quran, apa yang
kamu lakukan? Muadz menjawab, saya merujuk ke hadits Nabi. Lalu Nabi bertanya
lagi, jika kamu tidak menemukan keputusan hukum di dalam hadits, maka apa yang
kamu lakukan? Muadz menjawab, maka saya berijtihad dengan menggunakan
pendapatku, dan tentu saya tidak sembrono dalam ijtihad. Lalu Nabi menepuk
dadanya seraya berkata, segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk
kepada Muadz bin Jabal sebagai utusan Nabi untuk urusan yang diridhai Allah
SWT. ”
وما رواه البغوي عن ميمون بن
مهران قال: كان أبو بكر إذا ورد عليه الخصوم نظر في كتاب الله، فإن وجد فيه ما
يقضى بينهم فقضي به، وإن لم يكن في الكتاب وعلم عن رسول الله في ذلك الأمر سنة قضي
بها، فإن أعياه أن يجد في سنة رسول الله جمع رؤوس الناس وخيارهم فاستشارهم، فإن
أجمع رأيهم على أمر قضى به، وكذلك كان يفعل عمر، وأقرّهما على هذا كبار الصحابة
ورؤوس المسلمين ولم يعرف بينهم مخالف في هذا الترتيب.
Riwayat
lain menyebutkan yang artinya:
“Ketika
Abu Bakar ingin mengetahui ketentuan hokum, maka beliau merujuk langsung kepada
Al-Quran, jika menjumpainya dalam Al-Quran, maka beliau langsung mengambil
keputusan berdasarkan Al-Quran. Jika tidak menjumpainya dalam Al-Quran, tetapi
beliau mengetahui riwayat hadits dari Nabi yang menjelaskan hal itu, maka
beliau menghukumi dengan hadits Nabi. Jika beliaut tidak menemukan jawaban di
hadits Nabi, maka beliau mengumpulkan tokoh umat Islam dan ilmuwan Islam untuk
melakukan diskusi. Jika pendapat mereka sepakat atas suatu hukum yang dimaksud,
maka beliau menjadikan pendapat mereka sebagai landasan. Demikian pula Umar bin
Khattab dalam mengambil keputusan. Para sahabat-sahabat Nabi yang senior dan
ilmuwan-ilmuwan Islam sejak masa lampau menetapkan metode Abu Bakar dan Umar
bin Khattab dalam pengambilan keputusan urusan agama. Dan mereka sepekat dalam
penggunaan metodologi ini secara berurutan.”
وفى
جمع عمر الناس على قارئ واحد دليل على نظر الإمام لرعيته فى جمع كلمتهم وصلاح
دينهم، قال المهلب: وفيه أن اجتهاد الإمام ورأيه فى السنن مسموع منه مؤتمر له فيه،
كما ائتمر الصحابة لعمر فى جمعهم على قارئ واحد؛ لأن طاعتهم لاجتهاده واستنباطه
طاعة لله تعالى لقوله: (وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِى
الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ) [النساء: 83]، [1]
Kebijakan Umar bin Al-Khatthab r.a. mengumpulkan umat
Islam untuk shalat tarawih pada satu imam qari’ itu adalah dalil bahwa
pertimbangan seorang pemimpin sentral umat Islam demi persatuan dan kebaikan
urusan agamanya merupakan hujjah agama. Al-Muhallab berkata, kebijakan beliau
adalah bagian dari ijtihad dan pendapatnya dalam masalah sunnah-sunnah
keagamaan, dan kebijakan ini harus ditaati dan sudah disepakati para sahabat
yang lain, sebagaimana para sahabat bermusyarah kepada Umar bin Al-Khatthab
r.a. tentang jamaah yang akan dikumpulkan pada satu qari’. Karena bagi para
sahabat, taat kepada ijtihadnya Umar bin A-Khatthab r.a. dan istinbathnya
adalah bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Sesuai dengan spirit firman Allah
SWT (QS. An-Nisa’: 83) ولو ردوه....
Selain ayat tersebut, juga berdasarkan
hadits عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلفاء الرَّاشِدِينَ
مِنْ بَعْدِي، danاقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي: أَبي
بَكْرٍ وَعُمَرَ. Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk ikut sunnahnya,
dan sunnah para sahabatnya, secara khusus Umar dan Abu Bakar r.a.
Dalil 2. Penggunaan Qiyas sejak zaman Nabi Muhammad
SAW
Qiyas dalam ibadah sudah ada sejak masa Rasulullah
SAW. Dari Ammar bin Yasir berkata:
ما أخرجه الشيخان عن عمار بن ياسر رضي الله عنهما
أنه قال: بَعَثَنِي النبيُّ صلى الله عليه وآله وسلم في حاجة فأجنبتُ فلم أجِدِ
الماءَ، فتمرَّغتُ في الصعيد كما تتمرَّغ الدابةُ، ثم أتيتُ النبيَّ صلى الله عليه
وآله وسلم فذكرتُ ذلك له، فقال: «إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ
بِيَدَيْكَ هَكَذَا»، ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ الْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً،
ثُمَّ مَسَحَ الشِّمَالَ عَلَى الْيَمِينِ، وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ، وَوَجْهَه
“Nabi Muhammad SAW mengutusku untuk satu keperluan. Lalu aku junub, dan
tidak menemukan air (untuk mandi). Akhirnya saya menggulung-gulung di atas
tanah (yang berdebu) seperti binatang ternah. Kemudian aku datang kepada Nabi
Muhammad SAW dan menceritakan kejadian tersebut. Maka Nabi Muhammad SAW
menjawab, [Tayammum itu cukup dengan cara mengusapkan debu ke kedua tangan]. Kemudian
Nabi SAW menepukkan kedua tangannya ke tanah satu kali, dan lalu mengusapkan
tangan kiri ke atas tangan kanan dan bagian luar telapaka tangan, dan juga
mengusap ke wajahnya.” (HR. Bukhari Muslim).
Ammar bin Yasir telah
membuat qiyas masalah ibadah. pada hadits di atas memberi petunjuk hukum
sebagai berikut:
- Mengqiyaskan tatacara
tayammum menggunakan debu dengan mandi besar menggunakan air. Sehingga seluruh
tubuhnya dikenakan debu sebagaimana mandi besar menggunakan air.
- Qiyas di atas adalah qiyas
ibadah, dan Muhammad SAW tidak membatalkan qiyasnya, hanya menjelaskan
cara mengqiyaskannya tidak tepat. Sehingga Nabi menjelaskan qiyas yang
benar.
- Bahkan Nabi tidak
membatalkan amalannya. Cuma menjelaskan bahwa kalau tayammum itu demikian.
- Menurut jumhur ulama, qiyas
itu berlaku untuk seluruh hukum Islam, baik ibadah atau non ibadah. Karena
keumuman dalil qiyas itu menunjukkan cakupan seluruh hukum. Demikian ulama
ushul fiqh merumuskan.
Untuk lebih detilnya nanti penulis akan menguraikan diskusi
qiyas ibadah secara khusus. Pada di atas hanya menunjukkan bahwa talaffudz
niat itu terjadi sejak Zaman Nabi SAW, dan dilakukan oleh beliau sendiri,
terjadi pada ibadah puasa dan haji. Lalu ibadah shalat itu bila dilafadzkan
niatnya, maka sah karena sama-sama ibadah, sebagaimana haji dan puasa. Artinya
ijtihad yang didasarkan dalil itu dibenarkan menurut semua ulama tanpa
terkecuali, sejauh didasarkan atas dalil naqli (Al-Quran-hadits) dan aqli
(istinbath dari pemahaman dari nash Al-Quran dan hadits, yaitu ijma’ dan
qiyas). Bila Anda menafikan ijma’ dan qiyas dalam ibadah, berarti Anda keluar
dari Al-Quran dan hadits.
Komentar
Posting Komentar