Perdebatan Ulama Hukum Mempuasakan Orang Yang Sudah Meninggal Dunia


Mempuasakan Puasa Mayyit, Bolehkah, Sahkah?
Gugurkah Tanggungan Puasa si Mayyit?
Siapakah Yang Boleh Mempuasakan, Orang lain atau Keluarganya?

Judul “Perdebatan Ulama Hukum Mempuasakan Orang Yang Sudah Mati”
عن عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ (رواه البخاري ومسلم)
Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa mati dan mempunyai tanggungan puasa, maka walinya yang mempuasakannya” (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Ibnu Abbas bahwa seorang perempuan datang kepada
2749 - ...عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ. فَقَالَ « أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ ». قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ « فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ ».(رواه مسلم والبيهقي)
Dari Ibnu Abbas bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi SAW, lalu berkata, sesungguhnya ibuku telah meninggal, dan mempunyai tanggungan puasa 1 bulan, maka Nabi SAW menjawab apakah kalau dia mempunyai hutang kamu akan melunasi?, dia menjawab iya akan melunasi, Nabi melanjutkan, maka hutang kepada Allah lebih berhak dilunasi(HR. Muslim dan Al-Baihaqi)
2753 - ...عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ - رضى الله عنه - قَالَ بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ أَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّى تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّى بِجَارِيَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ - قَالَ - فَقَالَ « وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَدَّهَا عَلَيْكِ الْمِيرَاثُ ». قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ كَانَ عَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا قَالَ « صُومِى عَنْهَا ». قَالَتْ إِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ « حُجِّى عَنْهَا ». (رواه مسلم والبيهقي)
dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, berkata, bahwa ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Muhammad SAW, tiba-tiba datang ke beliau seorang perempuan, lalu berkata sesungguhnya aku telah bersedekah atasnama ibuku dengan seorang jariyah/budak perempuan. Sesungguhnya ibuku telah wafat, Nabi menjawab, wajib pahala bagimu, dan warisan kembalinya kepadamu. Perempuan tadi bertanya, sesungguhnya ibuku mempunyai tanggungan puasa 1 bulan, apakah aku puasa untuknya, Nabi menjawab berpuasalah untuknya. Dan perempuan tadi berkata, ibuku tidak pernah melakukan haji, apakah aku haji untuknya, nabi menjawab, berhajilah untuknya.” (HR. Muslim dan Al-Baihaqi)
عَنْ عَائِشَةَ فِي امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَعَلَيْهَا الصَّوْمُ , قَالَتْ: يُطْعَمُ عَنْهَا ( السنن الكبرى البيهقي 4/429)
dari Aisyah r.a. menjelaskan tentang perempuan yang mati dan mempunyai tanggungan puasa, beliau menjawab dibayarkan fidyah memberi makanan
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: لَا تَصُومُوا عَنْ مَوْتَاكُمْ , وَأَطْعِمُوا عَنْهُمْ (السنن الكبرى البيهقي 4/429)
dari Aisyah r.a. berkata, janganlah kalian mempuasakan orang-orang mati kalian
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَيُطْعِمُ عَنْهُ (السنن الكبرى البيهقي 4/429)
dari Ibnu Abbas r.a. seseroang tidak boleh puasa menggantikan puasanya orang lain
8219 -...عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ، قَالَ: سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ عَنْ رَجُلٍ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَعَلَيْهِ نَذْرُ صِيَامِ شَهْرٍ آخَرَ , قَالَ: " يُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا " كَذَا رَوَاهُ ابْنُ ثَوْبَانَ عَنْهُ فِي الصِّيَامَيْنِ جَمِيعًا
Dari Ibnu Tsauban berkata, Ibnu Abbas ditanya tentang orang yang meninggal, dan mempunyai tanggungan puasa ramadhan full satu bulan, dan puasa nadzar 1 bulan ” (HR. Al-Baihaqi)
            Berdasarkan hadits di atas, Imam An-Nawawi di dalam syarah shahih Muslim mengulas luas perbedaan ulama tentang interpretasi kandungan hukum dari hadits-hadits di atas.
اختلف العلماء فيمن مات وعليه صوم واجب من رمضان أو قضاء أو نذر أو غيره هل يقضى عنه وللشافعي في المسألة قولان مشهوران
Menurutnya, Imam As-Syafi’i dalam masalah ini mempunyai 2 pendapat penafasiran yang sama-sama masyhur.
أشهرهما لا يصام عنه ولا يصح عن ميت صوم أصلا والثاني يستحب لوليه أن يصوم عنه ويصح صومه عنه ويبرأ به الميت ولا يحتاج إلى اطعام عنه وهذا القول هو الصحيح المختار الذي نعتقده وهو الذي صححه محققو أصحابنا الجامعون بين الفقه والحديث لهذه الأحاديث الصحيحة الصريحة
  1. Pertama: Pendapat yang paling masyhur (dari Imam As-Syafi’i) bahwa orang yang sudah meninggal tidak usah dipuasai dan tidak sah (sama sekali) mempuasakan mayyit yang mempunyai tanggungan puasa.
  2. Pendapat kedua (dari Imam As-Syafi’i) disunnahkan bagi walinya (bapak/ibu/anak/saudara) mempuasakan keluarganya yang meninggal mempunyai tanggungan puasa, dan sah puasanya. Dengan puasanya si mayyit bebas tanggungan di hadapan Allah SWT, dan tidak butuh lagi membayarkan fidyah (1 mud/675 gr.makanan pokok untuk perhari). Pendapat kedua ini (Menurut Imam An-Nawawi) adalah pendapat yang shahih yang dipilih para ulama (المختار) yang kami yakini kalangan madzhab As-Syafi’i. Pendapat inilah yang sudah ditashih (secara ketat) oleh pakar-pakar penganut madzhab As-Syafi’i, yang ahli mengkompromikan pemahaman fiqh (keilmuan fiqh) dan hadits (tekstualitas) untuk hadits-hadits di atas.
وأما الحديث الوارد من مات وعليه صيام أطعم عنه فليس بثابت ولو ثبت أمكن الجمع بينه وبين هذه الأحاديث بأن يحمل على جواز الأمرين فان من يقول بالصيام يجوز عنده الاطعام

  1. Sedangkan hadits yang ada “barangsiapa yang meninggal dunia dan mempunyai tanggungan puasa, maka harus memberi makan (membayar fidyah),” hadits tersebut tidak kokoh, dan andaikan kuat, maka memungkinkan untuk dikomporomikan pemahamannya fiqhnya. Yaitu dalam konteks ini boleh memilih satu diantara dua hukum (mempuasakan atau membayarkan fidiyah). Ulama yang berpendapat hukum “mempuasakan” juga memperkenankan hukum “membayarkan fidyah.”
فثبت أن الصواب المتعين تجويز الصيام وتجويز الاطعام
  1. Dengan demikian, pendapat yang benar dan kokoh adalah hukum memperbolehkan mempuasakan mayyit dan memperbolehkan menfidyahkan mayyit yang punya tanggungan puasa. Yang mempuasakan adalah walinya (orangtua, anak, dan keluarga)
والولى مخير بينهما والمراد بالولى القريب سواء كان عصبة أو وارثا أو غيرهما وقيل المراد الوارث وقيل العصبة والصحيح الأول
  1. Wali mayyit boleh memilih salah satunya (mempuasakan/menfidyahkan). Yang dikehendaki “wali” dalam bab ini adalah kerabat baik itu ashabah, atau ahli waris, atau selain keduanya. Menurut (qiila) sebagian ulama, wali adalah ahli waris, (qiila) sebagian ulama yang lain adalah ashabahnya (anak dsb). Tetapi pendapat yang tepat adalah qiil yang pertama (ashabah dan al-waris).
ولو صام عنه أجنبي أن كان باذن الولى صح والا فلا في الأصح ولا يجب على الولى الصوم عنه لكن يستحب هذا تلخيص مذهبنا في المسألة وممن قال به من السلف طاوس والحسن البصرى والزهرى وقتادة وأبو ثور وبه قال الليث وأحمد واسحاق وأبو عبيد في صوم النذر دون رمضان وغيره
  1. Jika yang puasa orang lain (bukan asahabah dan ahli warisnya), maka sah dilakukan apabila dengan izin si walinya, jika tanpa izinnya, maka tidak sah menurut al-Ashahhu (pendapat yang paling tepat). Bagi wali tidak wajib mempuasakannya, tetapi hanya berhukum sunnah. Demikian (pendapat Imam An-Nawawi) ringkasan madzhab kami (As-Syafi’i) dalam masalah ini. Diantara tokoh kalangan salaf yang menghukumi sama dengan madzhab As-Syafi’i Thawus, Al-Hasan Al-Bashri, Az-Zuhri, Qathadah, Abu Tsaur, dan berpendapat sama Imam Al-Laits, Ahmad, Ishaq, Abu Ubaid hanya dalam puasa nadzar, bukan ramadhan dsb.
وذهب الجمهور إلى أنه لا يصام عن ميت لا نذر ولا غيره حكاه بن المنذر عن بن عمر وبن عباس وعائشة ورواية عن الحسن والزهرى وبه قال مالك وأبو حنيفة قال القاضي عياض وغيره هو قول جمهور العلماء وتأولوا الحديث على أنه يطعم عنه وليه وهذا تأويل ضعيف بل باطل وأي ضرورة إليه وأي مانع يمنع من العمل بظاهره مع تظاهر الأحاديث مع عدم المعارض لها قال القاضي وأصحابنا وأجمعوا على أنه لا يصلى عنه صلاة فائتة وعلى أنه لا يصام عن أحد في حياته وانما الخلاف في الميت والله أعلم
  1. Jumhur (mayoritas) selain ulama di atas, mayyit yang punya tanggungan puasa berpendapat tidak diusah dipuasakan, baik puasa nadzar atau lainnya. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Aisyah r.a. dan satu riwayat dari Al-Hasan dan Az-Zuhri. Hukum ini dipedomani Imam Malik dan Abu Hanifah. Al-Qadhi ‘Iyadh dll berkata pendapat (tidak dipuasakan) ini adalah pendapat jumhur (mayoritas), yang mana mereka ini menginterpretasikan hadits dengan “si wali membayarkan fidyah”. Imam An-Nawawi menyatakan “ini (interpretasi menfidyahkan) adalah interpretasi lemah bahkan bathal/ta’wil yang dipaksakan.” Landasan berpikir apa yang mendorong ta’wil seperti itu, dan apa yang menghalangi pengamalan tekstualitas hadits (wali mempuasakan keluarganya yang mati), di samping juga tekstualitas hadits-hadits lain tanpa penentangan (hadits lain). Al-Qadhi dan ashabuna (As-Syafi’iyah), dan para ulama sepakat bahwa shalat mayyit yang tertinggal tidak boleh digantikan shalatnya, dan tidak boleh mempuasakan orang yang masih hidup.Perbedaan ulama terjadi dalam masalah menggantikan puasa mayyit. Allah Mahatahu haikat kebenaran.
وقال الحسن إن صام عنه ثلاثون رجلا يوما واحدا جاز
  1. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari mengutip pendapat Al-Hasan bahwa jika ada mayyit mempunyai hutang 30 hari, lalu ada 30 orang berpuasa sebagai penggantinya, maka sah dan cukup.
واختلفوا أيضا هل يختص ذلك بالولى لأن الأصل عدم النيابة في العبادة البدنية ولانها عبادة لا تدخلها النيابة في الحياة فكذلك في الموت الا ما ورد فيه الدليل فيقتصر على ما ورد فيه ويبقى الباقي على الأصل وهذا هو الراجح وقيل يختص بالولى فلو أمر أجنبيا بأن يصوم عنه اجزا كما في الحج وقيل يصح استقلال الأجنبى بذلك وذكر الولي لكونه الغالب وظاهر صنيع البخاري اختيار هذا الأخير وبه جزم أبو الطيب الطبري
  1. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat tentang apakah yang harus menganti puasa apakah si wali atau orang lain. Karena menurut dalil asalnya, puasa itu ibadah badaniah yang tidak bisa menerima penggantian semasa hidup, maka demikian hanya ketika mati, kecuali ada dalil. Maka cukup mengambil dalil yang ada menurut dalil asal, dan ini pendapat yang unggul. Sungguh pun demikian, menurut sebagian ulama yang mengerjakan khusus walinya saja. Oleh karenanya jika walinya memerintah orang lain untuk berpuasa sebagai ganti keluarganya yang meninggal, maka sudah cukup dan sah sebagaimana haji. Menurut pendapat sebagian lain, sah puasa orang lain yang berinisiatif sendiri, sedang penyebutan kata “walinya” yang mempuasakan sebagaimana dalam hadits karena berpedoman pada umumnya, yaitu wali yang bertanggungjawab. Secara dzahirnya teks Al-Bukhari adalah sesuai dengan pendapat ini, dan ditetapkan oleh Abu Thayyib At-Thabari.
وقوله صام عنه وليه خبر بمعنى الأمر تقديره فليصم عنه وليه وليس هذا الأمر للوجوب عند الجمهور وبالغ إمام الحرمين ومن تبعه فادعوا الإجماع على ذلك وفيه نظر لأن بعض أهل الظاهر أوجبه فلعله لم يعتد بخلافهم على قاعدته
  1. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari memberi penjelasan bahwa kalimat khabar (informatif) dalam hadits di atas (صام عنه وليه/maka walinya yang berpuasa) bermakna amar (instruktif) dengan makna “berpuasalah walinya sebagai ganti puasa mayyit”. Menurut Ibnu Hajar perintah yang tersirat dalam hadits ini tidak berarti wajib menurut jumhur ulama. Imam Al-Haramain dan para pengikutnya bersuara lantang menyatakan sebagai ijma’ atas makna perintah “tidak wajib mempuasakan mayyit.” Dalam masalah ijma’ ini masih dipertimbangkan, karena sebagai ahli dzahir (kaum tekstualis) mewajibkan mempuasakan mayyit yang berhutang puasa, maka boleh jadi penentangan kaum tekstualis ini tidak dijadikan acuan, lantaran beda kaidah berpikir.
وقد اختلف السلف في هذه المسألة فأجاز الصيام عن الميت أصحاب الحديث وعلق الشافعي في القديم القول به على صحة الحديث كما نقله البيهقي في المعرفة وهو قول أبي ثور وجماعة من محدثي الشافعية
  1. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan bahwa ulama salaf dalam  masalah ini berbeda pendapat dan penafsiran. Ulama-ulama hadits memperkenankan mempuasakan mayyit yang punya tanggungan puasa, Imam As-Syafi’i mengkaitkan pendapat sahnya ini di dalam Al-Qaul Al-Qadim (fatwa di Iraq) atas sahihnya hadits sebagaimana yang dinukil Imam Al-Baihaqi dalam Al-Ma’rifat, dan itu pendapat Abi Tsaur, dan golongan besar dari ahli hadits penganut Syafi’iyah.
وقال الشافعي في الجديد ومالك وأبو حنيفة لا يصام عن الميت
  1. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan Imam As-Syafi’i berkata dalam Al-Qaul Al-Jadid , Imam Malik, Abu Hanifah, berpendapat mayyit tidak sah dipuasakan walinya.
وأجاب الماوردي عن الجديد بأن المراد بقوله صام عنه وليه أي فعل عنه وليه ما يقوم مقام الصوم وهو الإطعام قال وهو نظير قوله التراب وضوء المسلم إذا لم يجد الماء قال فسمى البدل باسم المبدل فكذلك هنا وتعقب بأنه صرف للفظ عن ظاهره بغير دليل وأما الحنفية فاعتلوا لعدم القول بهذين الحديثين بما روى عن عائشة أنها سئلت عن امرأة ماتت وعليها صوم قالت يطعم عنها وعن عائشة قالت لا تصوموا عن موتاكم وأطعموا عنهم أخرجه البيهقي وبما روي عن بن عباس قال في رجل مات وعليه رمضان قال يطعم عنه ثلاثون مسكينا أخرجه عبد الرزاق وروى النسائي عن بن عباس قال لا يصوم أحد عن أحد
  1. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari mengutip pernyataan Imam Al-Mawardi yang menjawab dan memperkuat pendapat Imam As-Syafi’i dalam Al-Qaul Al-Jadid bahwa yang dimaksud hadits (maka walinya yang mempuasakan) adalah walinya melakukan sesuatu yang setara dengan puasa, yaitu memberi makan (fidyah 1 mud). Pernyataan Al-Mawardi ini mempunyai persamaan ucapan “Debu adalah wudhunya orang Islam ketika tidak mendapatkan air.” Redaksi ini menyebutkan wudhu’ untuk menyatakan penggantinya “tayammum”. Demikian halnya dalam masalah ini menyebutkan (fidyah) dengan nama yang diganti (puasa). Ibnu Hajar menyatakan bahwa Al-Mawardi mengalihkan makna lafadz dari dzahirnya (makna aslinya) tanpa adanya dalil. Sedangkan ulama Hanafiah membuat alasan dan argumentasi (mayyit tidak sah dipuasakan) karena tidak adanya pernyataan dengan dua hadits di atas (yang menyatakan sahnya puasa untuk mayyit) dengan riwayat Aisyah r.a. bahwa Aisyah r.a. ditanya tentang perempuan yang mati, dan dia punya tanggungan puasa, Aisyah r.a “menjawab agar membayarkan fidyah”. Dan juga riwayat dari Aisyah r.a. berkata, “janganlah kalian berpuasa menggantikan puasanya orang-orang mati kalian, bayarlah fidyah untuk puasa mereka”, hadits dikeluarkan Al-Baihaqi dan dengan dalil dari Ibnu Abbas yang berkata tentang laki-laki yang mati mempunyai tanggungan puasa 1 bulan, beliau menjawab “memberi makan 30 orang miskin”, riwayat ini dikeluarkan Abdurrazzaq, dan An-Nasa’i meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas, “Seseorang tidak sah berpuasa untuk orang lain (sebagai pengganti).” Demikian sebagian ulasan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani As-Syafi’i.

Batasan-batasan dan Pedoman Puasanya Wali/keluarganya Mayyit Diuraikan dalam kitab Fiqh
أحدهما ـ أن يموت قبل إمكان الصيام، إما لضيق الوقت أو لعذر من مرض أو سفر أو عجز عن الصوم، فلا شيء عليه عند أكثر العلماء لعدم تقصيره، ولا إثم عليه؛ لأنه فرض لم يتمكن منه إلى الموت، فسقط حكمه إلى غير بدل كالحج. وبناء عليه: إن مات المريض أو المسافر، وهما على حالهما، لم يلزمهما القضاء.
(2) اللباب: 170/ 1، فتح القدير: 83/ 2 - 85، بداية المجتهد: 290/ 1، مغني المحتاج: 438/ 1 ومابعدها، المغني: 142/ 3 ومابعدها، كشاف القناع: 360/ 2، القوانين الفقهية: ص121، المهذب: 187/ 1.

  1. Meninggalnya sebelum memungkinkan malakukan puasa, boleh jadi karena mepetnya waktu, atau udzur sakit, atau perjalanan, atau tidak mampu berpuasa. Jika sedemikian, dia tidak mempunyai tanggungan apa pun menurut kebanyakan ulama, karena dia tidak sembrono meninggalkan puasa. Dan yang bersangkutan tidak berdosa karena belum bisa melakukan puasa sampai dirinya mati. Maka hukumnya menjadi gugur tidak perlu pengganti seperti haji. Dengan dasar itu, jika orang sakit dan perjalanan (tidak kuat puasa), lalu mati dalam keadaan sakit/perjalanan, maka tidak wajib qadha’.
الحال الثاني ـ أن يموت بعد إمكان القضاء، فلا يصوم عنه وليه أي لم يجب صومه عند أكثر الفقهاء، ولم يصح صومه عنه عند الشافعية في الجديد؛ لأنه عبادة بدنية محضة، وجبت بأصل الشرع فلم تدخلها النيابة في الحياة وبعد الموت كالصلاة، ولحديث: «لا يصلي أحد عن أحد، ولا يصوم أحد عن أحد، ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدّ من حنطة» (1) ويستحب عند الحنابلة للولي أن يصوم عن الميت؛ لأنه أحوط لبراءة الميت. (1) قال عنه الحافظ الزيلعي: غريب مرفوعاً، وروي موقوفاً على ابن عباس، وابن عمر، فحديث الأول رواه النسائي، والثاني رواه عبد الرزاق في مصنفه (نصب الراية: 463/ 2). الفقه الإسلامي وأدلته 3/1734-1736

  1. Meninggalnya setelah memungkinkan qadha’ tetapi tidak qadha, maka setelah memungkinkan qadha. Maka walinya tidak sah puasa penggantinya menurut kebanyakan ulama, dan tidak sah puasanya menurut As-Syafi’iyyah dalam Al-Qaul Al-Jadid. Karena puasa ini ibadah badaniyah mahdhah yang wajibnya dengan dasar syariat, tidak bisa diwakilkan ketika hidup dan saat sudah mati seperti shalat. Dan didasarkan hadits “tidak sah shalatnya seseorang untuk mengganti shalatnya orang lain, dan puasa untuk mengganti puasa orang lain.” Tetapi menurut ulama Hanabilah, disunnahkan bagi walinya untuk mempuasakan orang/keluarga yang sudah meningggal dunia, karena lebih berhati-hati untuk membebaskan tanggungan mayyit dihadapan Allah SWT.

Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan ulama dari hadits-hadits di atas sebagaimana berikut:
  1. Berdasarkan hadits-hadits di atas menurut Imam An-Nawawi Ibnu Hajar Al-Asqalani, bahwa hukum mempuasakan mayyit ada dua pendapat masyhur dari Imam As-Syafii, Al-Qaul Qadim (Fatwa di Iraq), sah dan boleh dipuasakan, dan Al-Qaul Jadid tidak sah dipuasakan, tetapi membayar fidyah. Baik puasa ramadhan/nadzar. Baik dilakukan walinya, atau keluarganya atau orang lain, baik disuruh atau atas kehendak sendiri. Lalu menurut Imam An-Nawawi 
فثبت أن الصواب المتعين تجويز الصيام وتجويز الاطعام
  1. Pendapat benar dan kokoh yang dapat dibuktikan adalah lahirnya dua hukum, hukum memperbolehkan mempuasakan mayyit dan memperbolehkan menfidyahkan mayyit yang punya tanggungan puasa.
  2. Baik Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani As-Syafi’i, ketika menjelaskan perbedaan ulama dalam mensyarahi hadits shahih Muslim dan Bukhari di atas, keduanya lebih banyak bersumber riwayat-riwayat hadits di dalam As-Sunan Al-Kubra karya Imam Al-Baihaqi. Monggo 4 kitab besar (As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi As-Syafi’i, Syarah Shahih Mulim An-Nawawi As-Syafi’i, Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani As-Syafi’i, Mughnil Muhtaj, Al-Lubab dan Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu), bisa dicross chek lagi untuk pendalaman. Selamat membaca!semoga berkah, dan manfaat dunia akhirat.

وفي هذه الأحاديث جواز صوم الولى عن الميت كما ذكرنا وجواز سماع كلام المرأة الأجنبية في الاستفتاء ونحوه من مواضع الحاجة وصحة القياس لقوله صلى الله عليه و سلم فدين الله أحق بالقضاء وفيها قضاء الدين عن الميت وقد أجمعت الأمة عليه ولا فرق بين أن يقضيه عنه وارث أو غيره فيبرأ به بلا خلاف وفيه دليل لمن يقول اذا مات وعليه دين لله تعالى ودين لآدمى وضاق ماله قدم دين الله تعالى لقوله صلى الله عليه و سلم فدين الله أحق بالقضاء
Di dalam hadits-hadits ini (secara global) memberi kandungan hukum sebagai berikut:
  1. Bagi wali (keluarga) boleh menggantikan puasanya orang yang sudah meninggal sebagaimana yang telah kami jelaskan,
  2. Boleh mendengarkan suara perempuan lain dalam permohonan fatwa atau kebutuhan-kebutuhan lain,
  3. Bolehnya qiyas ibadah karena sabda Nabi “Hutang kepada Allah lebih berhak dilunasi” (menyamakan hutang kepada manusia dengan hutang kepada Allah) dan di dalam hadits terkandung hukum pelunasan hutang mayyit. Ulama sepakat atas keharusan pelunasan hutang mayyit.
  4. Tidak ada perbedaan atau sama saja yang melunasi itu ahli waris, atau orang lain tanpa perbedaan pendapat ulama,
  5. dan juga sebagai dalil bagi ulama yang menyatakan “hutang kepada Allah harus didahulukan” jika ada orang mati mempunyai tanggungan kepada Allah dan kepada manusia, sementara hartanya belum cukup untuk melunasi kepada sesamanya, karena Rasulullah SAW bersabda “Hutang kepada Allah lebih berhak dilunasi.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DALIL AL-QURAN DAN HADITS-HADITS SHAHIH TENTANG KEUTAMAAN BERAMAL SALEH PADA 10 HARI PERTAMA DZUL HIJJAH SEPERTI PUASA, TASBIH, TAKBIR, TAHMID, SEDEKAH, DSB.

Tatacara Sunnah Puasa Rajab Berdasarkan Hadits Shahih, 3 Hari Puasa, dan 3 Tidak Puasa (PART 2)

Hasud, Penyakit Hati Yang Paling Merusak Kehidupan