Asal-usul Tarawih “تراويح” dari Berbagai Perspektif (PART 1)
A. Kata “تراويح/Tarawih” Secara Bahasa
Perbincangan tarawih sudah tidak asing lagi di dunia Islam, namun jarang yang membincangkan dari mana asal kata “tarawih”, dan klausul mengapa shalat sunnah 23/11 disebut “tarawih”? Penamaan dan pengistilahan “tarawih” untuk shalat sunnah 23/11 rakaat setelah shalat isya’ bagian dari ‘bid’ah’, mengingat Nabi SAW tidak pernah menyebutkan shalat malam ramadhan dengan kata “tarawih”. Yang ada dalam hadits, Rasulullah SAW menyebutnya “قيام الليل/قيام رمضان” dari pernyataan “من قام رمضان إيمانا واحتسابا” dan lain-lain.
Untuk menambah wawasan tentang lahirnya kata “tarawih” penulis awali dari pendapat ulama bahasa Arab:وَالتَّرَاوِيحُ: جَمْعُ تَرْوِيحة، وَهِيَ الْمَرَّةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الرَّاحَةِ، تَفْعِيلة مِنْهَا، مِثْلُ تَسْلِيمَةٍ مِنَ السَّلام.
“Kata Tarawih adalah jamak dari kata tarwihat, yang berarti satu kali putaran istirahat, ikut wazan taf’ilatan, seperti kata taslimatan dari masdar salam.”
Rujukan
Ibnu Mandzur, Muhammad bin Mukrim bin Ali, Abu Al-Fadhl, Jamaluddin (w. 711 H.). Lisanul Arabi, Daru Shadir, Beirut Lebanon, (cet. III), 1414 H. vol. II, hal. 462.
والتَّرْوِيحةُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ: سمِّيت بِذَلِكَ لِاسْتِرَاحَةِ الْقَوْمِ بَعْدَ كُلِّ أَربع رَكَعَاتٍ؛ وَفِي الْحَدِيثِ: صَلَاةُ التَّرَاوِيحِ؛ لأَنهم كَانُوا يَسْتَرِيحُونَ بَيْنَ كُلِّ تَسْلِيمَتَيْنِ.
“Tarwihat di bulan ramadhan disebutkan untuk shalat malam karena para jamaah istirahat setiap setelah 4 rakaat. Dalam hadits disebutkan, shalat tarawih, karena mereka umat Islam istirahat setiap dua kali salam.”
{أَرِحْنا بالصَّلاة: أَي أَقِمْها، فَيكون فِعْلُهَا رَاحَة، لأَنّ انتظارها مَشقَّة على (النَّفس) وصلاَةُ} التَّرَاوِيح مُشتقَّةٌ من ذالك
“istirahatkanlah kami dengan shalat, yakni dirikanlah shalat, sehingga shalat menjadi moment istirahat dan bebas dari beban duniawi, karena waktu menunggu shalat (bagi orang tertentu dari kalang sufi), menjadi bebab, dan shalat tarawih dicetak dari kata راح/أراح/راحة”.
Rujukan
Az-Zabidi, Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazzaq Al-Husaini, (w. 1205 H.) Abu Al-Faidh, Murtadha (julukan). Tajul Arus Min Jawahirul Qamus, vol. VI, hal. 422, (Penelaah Ahli: konsorsium pakar-pakar bahasa Arab). Darul Hidayah, ttp.
B. Kata “تراويح/Tarawih” Berdasarkan Hadits
Dari ulama bahasa, penulis mengajak pembaca ke arena kitab-kitab hadits dan syarahnya untuk mengetahui klausul dan awal munculnya istilah serta kesimpulan ulama fiqh menamai shalat malam ramadhan dengan “تراويح”. Mari perhatikan hadits berikut:
Hadits [1]
4294 - أنبأ أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذْبَارِيُّ بِطُوسَ أنبأ أَبُو طَاهِرٍ الْمُحَمَّدَ آبَادِيُّ، ثنا السَّرِيُّ بْنُ خُزَيْمَةَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ بِشْرٍ الْكُوفِيُّ، ثنا الْمُعَافَى بْنُ عِمْرَانَ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ زِيَادٍ الْمَوْصِلِيِّ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي اللَّيْلِ، ثُمَّ يَتَرَوَّحُ، فَأَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ، وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ، قَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ: " أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟ " تَفَرَّدَ بِهِ الْمُغِيرَةُ بْنُ زِيَادٍ، وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ، وَقَوْلُهُ: ثُمَّ يَتَرَوَّحُ إِنْ ثَبَتَ فَهُوَ أَصْلٌ فِي تَرَوُّحِ الْإِمَامِ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ، وَاللهُ أَعْلَمُ
“Abu Ali Ar-Ruzbariy telah memberitakan di Thus, Abu Thahir Al-Muhammada Abadiyyu, As-Sariyyu bin Khuzaimah telah menceritakan hadits, Al-Hasan bin Bisyr Al-Kufiyyu telah menceritakan hadits, Al-Muafa bin Imran, dari Al-Mughirah bin Ziyad Al-Maushili, dari Atha’ dari Aisyah r.a. telah berkata, Rasulullah SAW dulu shalat di waktu malam 4 rakaat, kemudian istirahat (يَتَرَوَّحُ), lalu beliau memperlama shalat, sampai-sampai aku mengasihinya, maka aku berkata kepada beliau, demi ayahku dan ibuku wahai Rasulullah engkau, bukankah Allah sudah mengampuni dosa yang telah lampau dan akan datang. Nabi menjawab, tidakkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”
Al-Mughirah bin Ziyad menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini, dan dia bukan rawi yang kuat hafalannya. Sedangkan kata “يَتَرَوَّحُ” andaikan memang hadits ini tsabat, maka kata ini asal istilah “istirahatnya/ترويحة” imam dalam shalat tarawih. وَاللهُ أَعْلَمُ
Rujukan:
Al-Baihaqi, Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa Al-Khusrawjirdi Al-Khurasani Abu Bakar (w. 458). As-Sunan Al-Kubra (Al-Muhahaqqiq: Muhammad Abdul Qadir ‘Atha), vol.II, hal.700. Dar el-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut Lebanon, cet.III, 1424 H./2003 M.
C. Kata “تراويح/Tarawih” Menurut Ulama Hadits
Berdasarkan hadits di atas, antara pemahaman ulama bahasa Arab dan fiqh mempunyai titik temu, bahwa tarawih secara bahasa adalah istirahat, dan secara istilah adalah istirahat setiap kali 2 kali salam/4 rakaat shalat malam ramadhan, dengan duduk istirahat. Selanjutnya setelah periode Rasulullah SAW, umat Islam istirahat sejenak (setelah 4 rakaat) untuk menghilangkan capeknya shalat yang bacaannya panjang. Demikian ulama hadits menjelaskan:
والتراويح جمع ترويحة، وَيجمع أَيْضا على ترويحات، والترويحة فِي الأَصْل اسْم للجلسة، وَسميت بالترويحة لاستراحة النَّاس بعد أَربع رَكْعَات بالجلسة، ثمَّ سميت كل أَربع رَكْعَات ترويحة مجَازًا لما فِي آخرهَا من الترويحة، وَيُقَال: الترويحة اسْم لكل أَربع رَكْعَات، وَأَنَّهَا فِي الأَصْل إِيصَال الرَّاحَة، وَهِي الجلسة.
“kata (tarawih/التراويح) jamak dari (tarwihat/ ترويحة), dan dijamak pula dengan kata tarwihaat(muannats salim/ ترويحات), tarwihat makna asalnya adalah jalsah/satu kali duduk (atau jilsah/keadaan duduk), disebut tarwihat karena jamaah beristirahat/rehat di setiap 4 rakaat dengan satu kali jalsah/duduk. Kemudia setiap 4 rakaat disebut tarawih sebagai ungkapan majaz karena di setiap akhirnya 4 rakaat ada 1 tarwihat. Dikatakan bahwa tarwihat juga dibuat nama setiap kali 4 rakaat shalat. Kata tarwihat pada asalnya berarti melakukan istirahat dengan duduk.”
Rujukan
Al-‘Aini (w. 855 H), Baruddin Al-Hanafi, Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa bin Ahmad bin Husein Al-Ghitabiy. ‘Umdatul Qariy Syarhul Bukhari, vol. XI, hal. 124. Dar Ihya’ Turats Al-Arabiy, Beirut (25 volume x jilid)
Duduk istirahat di setiap dua kali salam ini/4 rakaat, sudah dicontohkan Rasulullah SAW dan sahabat sebagaimana hadits [1,2,3,4] di atas, sebagaimana pemaparan Al-Aini. Selanjutnya penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani (pensyarah shahih Bukhari) dan Az-Zarqani (pensyarah Al-Muwattha’), bahwa shalat jamaah di malam ramadhan disebut tarawih karena berdasarkan hadits-hadits di atas, di masa Umar bin Al-Khatthab r.a. para jamaah istirahat di setiap 2X salam.
وَالتَّرَاوِيحُ جَمْعُ تَرْوِيحَةٍ وَهِيَ الْمَرَّةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الرَّاحَةِ كَتَسْلِيمَةٍ مِنَ السَّلَامِ سُمِّيَتِ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ التَّرَاوِيحَ لِأَنَّهُمْ أَوَّلَ مَا اجْتَمَعُوا عَلَيْهَا كَانُوا يَسْتَرِيحُونَ بَيْنَ كُلِّ تَسْلِيمَتَيْنِ
“Kata tarawih bentuk jamak dari mufrad tarwihat, yang berarti satu kali putaran, kata taslimah kata salam. Shalat sunnah malam khusus bulan ramadhan disebut tarawih karena pertamakali umat Islam mendirikan tarawih, mereka istirahat diantara dua kali salam.”
Rujukan
Al-‘Asqalani, Ahmad Bin Ali Ibnu Hajar Abu Al-Fadhl As-Syafii. Fathul Bari Syarhu Shahih Bukhari, vol. IV, hal. 251. Takhrij Muhibudiin Al-Khatib. Fathul Bari Syarhu Shahih Al-Bukhari. Dar el-Ma’rifah, Beirut Lebanon, 1379 H. Ta’liq: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. jumlah kitab kitab: 13 volume.
D. Kata “تراويح/Tarawih” Menurut Ulama Fiqh
Sekarang kita mengelana pada pemahaman ulama fiqh yang sangat komprehensif.
وَالتَّرَاوِيحُ: جَمْعُ تَرْوِيحَةٍ، أَيْ تَرْوِيحَةٌ لِلنَّفْسِ، أَيِ اسْتِرَاحَةٌ، مِنَ الرَّاحَةِ وَهِيَ زَوَال الْمَشَقَّةِ وَالتَّعَبِ، وَالتَّرْوِيحَةُ فِي الأْصْل اسْمٌ لِلْجِلْسَةِ مُطْلَقَةً، وَسُمِّيَتِ الْجِلْسَةُ الَّتِي بَعْدَ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ بِالتَّرْوِيحَةِ لِلاِسْتِرَاحَةِ، ثُمَّ سُمِّيَتْ كُل أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ تَرْوِيحَةً مَجَازًا، وَسُمِّيَتْ هَذِهِ الصَّلاَةُ بِالتَّرَاوِيحِ؛ لأِنَّهُمْ كَانُوا يُطِيلُونَ الْقِيَامَ فِيهَا وَيَجْلِسُونَ بَعْدَ كُل أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ لِلاِسْتِرَاحَةِ
“Tarawih merupakan bentuk jamak dari kata tarwihat, yang berarti mengistirahatkan diri, yaitu menghilangkan rasa capek dan lelah. Tarwihat makna asalnya adalah nama untuk jilsah (keadaan duduk) secara umum. Jilsah yang terjadi setelah 4 rakaat di malam ramadhan disebut tarwihat karena pada saat itu rehat. Kemudian jilsah yang dilakukan setiap selesai 4 rakaat dengan nama tarwihat adalah majaz. Dan shalat malam ini (tarawih) disebut dan dinamai tarawih karena dulunya para jamaah shalatnya lama, dan duduk setiap selesai 4 rakaat untuk istirahat.”
Rujukan
Kementerian Waqaf dan Urusan Keislamlan, Al-Mausuat Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, vol. XXVII, hal.135
الاِسْتِرَاحَةُ بَيْنَ كُل تَرْوِيحَتَيْنِ: اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الاِسْتِرَاحَةِ بَعْدَ كُل أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ؛ لأِنَّهُ الْمُتَوَارَثُ عَنِ السَّلَفِ، فَقَدْ كَانُوا يُطِيلُونَ الْقِيَامَ فِي التَّرَاوِيحِ وَيَجْلِسُ الإْمَامُ وَالْمَأْمُومُونَ بَعْدَ كُل أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ لِلاِسْتِرَاحَةِ. وَقَال الْحَنَفِيَّةُ: يُنْدَبُ الاِنْتِظَارُ بَيْنَ كُل تَرْوِيحَتَيْنِ، وَيَكُونُ قَدْرَ تَرْوِيحَةٍ، وَيَشْغَل هَذَا الاِنْتِظَارَ بِالسُّكُوتِ أَوِ الصَّلاَةِ فُرَادَى أَوِ الْقِرَاءَةِ أَوِ التَّسْبِيحِ.
“Istirahat di setiap dua kali tarwihat: seluruh ulama fiqh (berdasarkan hadits) sepakat atas pensyariatan duduk istirahat setelah setiap selesai 4 rakaat, karena tradisi ini sudah turun temurun dari generasi salaf. Dulunya umat Islam sangat lama berdiri membaca ayat dalam shalat tarawih, dan imam serta makmumnya setiap 4 rakaat duduk untuk istirahat. Al-Ahnaf berpendapat, disunnahkan menunggu waktu istirahat, dan seukuran satu kali shalat. Pada saat menunggu istirahat ini diisi dengan diam saja, atau shalat sendiri-sendiri , atau membaca Al-Quran, atau tasbih.”
Rujukan
Al-Mausuat Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, vol. XXVII, hal.144
Menurut penulis, duduk istirahat di setiap 4 rakaat yang kemudian berkembang dengan istilah tarawih untuk shalat malam ramadhan ini berdasarkan tradisi salaf, sesuai apa mereka pahami dari amaliah Nabi SAW dan sahabatnya, sebagaimana keterangan pada hadits [1 dan 2], [3 dan 4]. Sungguh pun istirahat ini di dasarkan hadits, esensi “duduk istirahat” merupakan bagian budaya belaka.
Pada saat istirahat, para jamaah diberi kebebasan memilih antara duduk, diam, dan dzikir, shalat, tasbih dll. Karena yang disebut “duduk istirahat” formatnya tidak ditentukan agama, mulai dari modelnya duduk, lamanya duduk, entah sambil termenung, atau apa saja yang tidak bertentangan dengan subtansi agama, itu adalah bagian dari fitrah manusia. Kesimpulannya, kata “tarawih” tidak disebutkan oleh Nabi SAW, melainkan pengistilahan para ulama fiqh yang dipahami dari hadits tentang amaliah (tarwihat) Nabi SAW yang dilanjutkan para sahabat.
Komentar
Posting Komentar