Hukum Wajib “Menyembelih Hewan Kurban” Karena Nadzar

 

    

Sebagaimana pada fiqh kurban part 1, bahwa hukum menyembelih kurban secara umum terjadi perbedaan hasil ijtihad ulama, antara Syafiiyah, Hanabilah, dan sebagian riwayat Imam malik, yang digolongkan dalam kategori “jumhurul ulama al-fuqaha” yang didasarkan pada riwayat-riwayat hadits shahih dan amalan para sahabat, khususnya amalan sayyidina Abu Bakar dan Umar, bahwa

menyembelih kurban hukumnya (bagi orang yang kermampuan) adalah sunnah Muakkad dengan hujjah-hujjah yang kami paparkan pada fiqh kurban part 1 sebelumnya. Sedangkan menurut Abu Hanifah adalah wajib, yang didasarkan juga pada Al-Quran dan Sunnah nabi. Artinya terjadi perbedaan pendapat hasil ijtihad tentang nyembelih kurban secara umum.

              Namun hasil ijtihad ulama sepakat tanpan perselisihan sedikitpun, bahwa kurban menjadi WAJIB apabila seseorang bernadzar. Misalnya, “jika saya lolos dan diterima jadi PNS/ASN (Aparatur Sipil Negara), maka saya akan menyebelih sapi untuk kurban, jika saya diterima kerja di perusahaan tambang mas, maka saya akan sembelih kurban.” Ternyata betul diterima PNS/kerja di tambang mas, maka ernyataan-pernyataan seperti ini menyebabkan hukum wajib menyebelih kurban sajpi jika ternyata terwujudlah apa yang ia cita-citakan. Jika dalam nadzarnya tidak menentukan jenis hewan apa yang mau disembelih, misalnya “jika saya diterima PNS, saya mau berkurban” lalu dia menentukan kambing, maka kambing yang wajib disembelih pada waktu hari raya kurban.

              Hukum wajib berkurban karena nadzar ini mengena kepada siapa saja, baik kaya atau fakir sama-sama wajib apabila bernadzar.    

 

الأُضْحِيَّةُ الْمَنْذُورَةُ:

١١ - اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ نَذْرَ التَّضْحِيَةِ يُوجِبُهَا، سَوَاءٌ أَكَانَ النَّاذِرُ غَنِيًّا أَمْ فَقِيرًا، وَهُوَ إِمَّا أَنْ يَكُونَ نَذْرًا لِمُعَيَّنَةٍ نَحْوُ: لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَذِهِ الشَّاةِ، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ نَذْرًا فِي الذِّمَّةِ لِغَيْرِ مُعَيَّنَةٍ لِمَضْمُونَةٍ، كَأَنْ يَقُول: لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ، أَوْ يَقُول: لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِشَاةٍ. (٣) فَمَنْ نَذَرَ التَّضْحِيَةَ بِمُعَيَّنَةٍ لَزِمَهُ التَّضْحِيَةُ بِهَا فِي

(٣) حاشية الدسوقي على الشرح الكبير ٢ / ١٢٥، والبجيرمي على المنهج ٤ / ٢٩٥، والمجموع للنووي ٨ / ٣٨٣ - ٣٨٦ والمغني لابن قدامة مع الشرح الكبير ١١ / ٩٤، ١٠٦، ١٠٧، ومطالب أولي النهى ٢ / ٤٨٠.

الْوَقْتِ، وَكَذَلِكَ مَنْ نَذَرَ التَّضْحِيَةَ فِي الذِّمَّةِ بِغَيْرِ مُعَيَّنَةٍ، ثُمَّ عَيَّنَ شَاةً مَثَلاً عَمَّا فِي ذِمَّتِهِ، فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ التَّضْحِيَةُ بِهَا فِي الْوَقْتِ. وَصَرَّحَ الشَّافِعِيَّةُ بِأَنَّ مَنْ نَذَرَ مُعَيَّنَةً، وَبِهَا عَيْبٌ مُخِلٌّ بِالإِْجْزَاءِ صَحَّ نَذْرُهُ، وَوَجَبَ عَلَيْهِ ذَبْحُهَا فِي الْوَقْتِ، وَفَاءً بِمَا الْتَزَمَهُ، وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ بَدَلُهَا. وَمَنْ نَذَرَ أُضْحِيَّةً فِي ذِمَّتِهِ، ثُمَّ عَيَّنَ شَاةً بِهَا عَيْبٌ مُخِلٌّ بِالإِْجْزَاءِ لَمْ يَصِحَّ تَعْيِينُهُ إِلَاّ إِذَا كَانَ قَدْ نَذَرَهَا مَعِيبَةً، كَأَنْ قَال: عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِشَاةٍ عَرْجَاءَ بَيِّنَةِ الْعَرَجِ. وَقَال الْحَنَابِلَةُ مِثْل مَا قَال الشَّافِعِيَّةُ، إِلَاّ أَنَّهُمْ أَجَازُوا إِبْدَال الْمُعَيَّنَةِ بِخَيْرٍ مِنْهَا، لأَِنَّ هَذَا أَنْفَعُ لِلْفُقَرَاءِ. وَدَلِيل وُجُوبِ الأُْضْحِيَّةِ بِالنَّذْرِ: أَنَّ التَّضْحِيَةَ قُرْبَةٌ لِلَّهِ تَعَالَى مِنْ جِنْسِهَا وَاجِبٌ كَهَدْيِ التَّمَتُّعِ، فَتَلْزَمُ بِالنَّذْرِ كَسَائِرِ الْقُرَبِ، وَالْوُجُوبُ بِسَبَبِ النَّذْرِ يَسْتَوِي فِيهِ الْفَقِيرُ وَالْغَنِيُّ


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DALIL AL-QURAN DAN HADITS-HADITS SHAHIH TENTANG KEUTAMAAN BERAMAL SALEH PADA 10 HARI PERTAMA DZUL HIJJAH SEPERTI PUASA, TASBIH, TAKBIR, TAHMID, SEDEKAH, DSB.

Tatacara Sunnah Puasa Rajab Berdasarkan Hadits Shahih, 3 Hari Puasa, dan 3 Tidak Puasa (PART 2)

Hasud, Penyakit Hati Yang Paling Merusak Kehidupan