Fiqh Kurban: Syarat-syarat Hewan Kurban dan Hukum Prioritas Utama
Hewan Yang Sah Disembelih: Jenis Unta, Sapi, dan Domba/Kambing? Atau boleh Ayam?
المطلب الأول ـ نوع الحيوان المضحى به:
اتفق العلماء على أن الأضحية لا تصح إلا من نَعم: إبل وبقر (ومنها الجاموس) وغنم (ومنها المعز) بسائر أنواعها، فيشمل الذكروالأنثى، والخصي والفحل، فلا يجزئ غير النعم من بقر الوحش وغيره، والظباء وغيرها، لقوله تعالى: {ولكل أمة جعلنا منسكاً ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام} [الحج:٣٤/ ٢٢] ولم ينقل عنه صلّى الله عليه وسلم، ولا عن أصحابه التضحية بغيرها، ولأن التضحية عبادة تتعلق بالحيوان، فتختص بالنَّعَم كالزكاة (١).
Semua hasil ulama fiqh sepakat dan satu kata, bahwa yang sah dan mencukupi secara agama dijadikan dan disembelih untuk kurban adalah unta, sapi, dan kambing atau domba dari berbagai macam jenisnya, dalam istilah Al-Quran disebut “الأنعام”. Dengan alasan,
bahwa tidak ada riwayat satupun yang menyatakan bahwa Nabi SAW menyembelih hewan selain jenis unta, sapi, dan domba dalam rangka berkurban. Nabi dan sahabat-sahabatnya tidak pernah berkurban dengan menyembelih ayam, bebek, kelinci, atau burung dsb.Ketentuan sapi dan unta sebagai hewan kurban ini didasarkan atas hadits riwayat Muslim:
“Jabir berkata, bahwa kami menyembelih kurban bersama Rasulullah SAW di tahun Hudaibiyah, 1 hewan unta untuk 7 orang, dan 1 sapi untuk tujuh orang” (HR. Muslim)
جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال: نَحَرْنَا مَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ
Sedangkan hewan kurban kambing/domba dengan berbagai macam jenisnya didasarkan pada hadits Ibnu Majah
٣١٢٠ - حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، ح وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: سَمِعْتُ قَتَادَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، وَيُسَمِّي، وَيُكَبِّرُ، وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَذْبَحُ بِيَدِهِ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا»
“Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW dulu pernah menyembelih kurban dua kambing putih, bertanduk sedang, beliau membaca bismillah, bertakbir, dan sungguh aku melihat langsung, beliau yang menyembelih dengan tangan beliau sendiri, sambil meletakan telapak tangannya di atas leher kambing, bagian sampingnya” (HR. Ibnu Majah)
Oleh karenanya, jika seseorang menyembelih ayam, burung, bebek, kelenci, atau ikan tongkol, dsb untuk dijadikan sembelihan kurban di hari raya idul adha, maka tidak sah sebagai kurban, tetapi shadaqah biasa.
٢٣ - (الشَّرْطُ الأَوَّل) وَهُوَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْمَذَاهِبِ: أَنْ تَكُونَ مِنَ الأَْنْعَامِ، وَهِيَ الإِْبِل عِرَابًا كَانَتْ أَوْ بَخَاتِيَّ، (٢) وَالْبَقَرَةُ الأَْهْلِيَّةُ وَمِنْهَا الْجَوَامِيسُ (٣) ،وَالْغَنَمُ ضَأْنًا كَانَتْ أَوْ مَعْزًا (١) ، وَيُجْزِئُ مِنْ كُل ذَلِكَ الذُّكُورُ وَالإِْنَاثُ.
فَمَنْ ضَحَّى بِحَيَوَانٍ مَأْكُولٍ غَيْرِ الأَْنْعَامِ، سَوَاءٌ أَكَانَ مِنَ الدَّوَابِّ أَمِ الطُّيُورِ، لَمْ تَصِحَّ تَضْحِيَتُهُ بِهِ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلِكُل أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَْنْعَامِ} (٢) وَلأَِنَّهُ لَمْ تُنْقَل التَّضْحِيَةُ بِغَيْرِ الأَْنْعَامِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ ذَبَحَ دَجَاجَةً أَوْ دِيكًا بِنِيَّةِ التَّضْحِيَةِ لَمْ يُجْزِئْ.
Bagaimanakah kriteria hewan yang utama, Betina atau Jantan?
لقوله تعالى: {ولكل أمة جعلنا منسكاً ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام} [الحج:٣٤/ ٢٢]
واختلف الفقهاء في الأفضل من أنواع الحيوان على رأيين:
فقال المالكية: الأفضل الضأن، ثم البقر، ثم الإبل، نظراً لطيب اللحم، ولأن النبي صلّى الله عليه وسلم ضحى بكبشين، ولا يفعل إلا الأفضل، ولو علم الله خيراً منه لفدى إسحاق (أو إسماعيل) به.وعكس الشافعية والحنابلة فقالوا: أفضل الأضاحي: الإبل، ثم البقر، ثم الضأن، ثم المعز. نظراً لكثرة اللحم، ولقصد التوسعة على الفقراء، ولقول النبي صلّى الله عليه وسلم: «من اغتسل يوم الجمعة غسل الجنابة، ثم راح فكأنما قرب بدنة، ومن راح في الساعة الثانية، فكأنما قرب بقرة، ومن راح في الساعة الثالثة، فكأنما قرب كبشاً أقرن .. » (٢). ورأي الحنفية: الأكثر لحماً هو الأفضل.
_________
(١) البدائع: ٦٩/ ٥، اللباب: ٢٣٥/ ٣، الدر المختار: ٢٢٦/ ٥، تبيين الحقائق: ٧/ ٦، تكملة الفتح: ٧٦/ ٨، الشرح الكبير: ١١٨/ ٢ ومابعدها، بداية المجتهد: ٤١٦/ ١، مغني المحتاج: ٢٨٤/ ٤، المغني: ٦١٩/ ٨ ومابعدها، ٦٢٣، كشاف القناع: ٦١٥/ ٢ ومابعدها، القوانين الفقهية: ص ١٨٨، المهذب: ٢٣٨/ ١.
(٢) رواه الجماعة إلا ابن ماجه عن أبي هريرة (نيل الأوطار: ٢٣٧/ ٣).
Sebagaimana pada ayat di atas, Kata “Al-An’am” jama’ dari “Na’amun” yang berarti hewan ternak, mencakup kelamin betina dan jantan. Jadi menurut pahaman ini, sembelih kurban boleh sapi, onta, dan kambing dengan jenis kelamin jantan dan atau betina. Karena kata-kata “Al-An’am” mencakup betina dan jantan. Karena dalam hal ini ada sebagian masyarakat yang beranggapan harus jenis kelamin jantan, dan ragu dengan jenis betina. Oleh karenanya bagaimana sebenarnya pemahaman ulama fiqh?
Berdasarkan hadits-hadits yang terkait hewan kurban, para ulama terbagi mennjadi tiga kelompok:
- Ulama Malikiah menghasilkan ijtihad, bahwa yang paling utama adalah menyembelih domba sebagai peringkat ke satu, lalu peringkat kedua adalah sapi, lalu unta di peringkat ketiga. Landasan berpikirnya adalah, daging domba lebih lezat, dan karena Nabi SAW menyembelih kabsy, yang berarti domba, dan yang dilakukan Nabi mesti yang paling utama.
- Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat dan menghasilkan ijtihad yang bertolak dengan Malikiah 180 derajat. Dengan urutan keutamaan yang paling utama adalah unta, lalu sapi, baru urutan ketiga adalah domba, dan yang terakhir kambing. Yang menjadi landasan berpikir kelompok ini adalah banyaknya daging, dan keluasan jangkauan distribusi daging Ketika berkurban unta atau sapi, akan lebih luas menjangkau semua orang-orang fakir.
Komentar
Posting Komentar